Bangun Banten -- Pemanfaatan aset lahan milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang berada di wilayah Tangerang, Banten, memasuki babak baru. Lahan seluas puluhan hektare yang sebelumnya tidak terkelola secara optimal kini resmi dialihfungsikan menjadi kawasan sentra pangan terpadu dengan nilai investasi dan pengembangan mencapai Rp1 triliun.
Langkah kolaboratif ini dirancang untuk memperkuat rantai pasok ketahanan pangan nasional, khususnya dalam menyuplai kebutuhan komoditas pokok bagi wilayah metropolitan Jakarta dan sekitarnya. Pengembangan kawasan sentra pangan ini mencakup integrasi sektor pertanian, peternakan, hingga fasilitas pengolahan pascapanen berbasis teknologi pertanian modern (smart farming).
Injeksi dana sebesar Rp1 triliun tersebut dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur pendukung, seperti sistem irigasi terpadu, gudang penyimpanan berpendingin (cold storage), serta sarana logistik guna memastikan kualitas hasil panen tetap terjaga saat didistribusikan ke pasar. Skema pengolahan lahan ini juga melibatkan kemitraan dengan kelompok tani lokal serta Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) pangan.
"Alih fungsi aset bernilai tinggi ini merupakan bentuk efisiensi tata kelola lahan antarwilayah. Integrasi produksi pangan langsung di kawasan penyangga akan memangkas rantai distribusi serta menjaga stabilitas harga pangan di tingkat konsumen," ungkap seorang pengamat tata kota saat meninjau proyek di lokasi.
Inisiatif pengembangan sentra pangan senilai Rp1 triliun di Tangerang ini menjadi penanda pergeseran strategi pengelolaan aset daerah. Melalui optimalisasi lahan tidur menjadi kawasan produktif, pemenuhan kebutuhan pangan kawasan aglomerasi diposisikan pada tingkat kepastian pasokan yang lebih terukur.